Oleh : Agus Suherlan
Menjelang dan sesudah peringatan Hari Sumpah pemuda (HSP) hampir seluruh stasiun televisi, baik swasta maupun pemerintah, tak ketinggalan para pengurus Parpol, LSM, media cetak, instansi Pemerintah, serta para tokoh yang "kemungkinan" memiliki kepentingan dengan suksesi pada tingkat nasional atau daerah, seakan mereka tidak ingin tertinggal dan saling berlomba menyajikan program bertajuk "Semangat Pemuda" yang dikemas dalam berbagai bentuk seperti diskusi, seminar, talkshow, bantuan social, sunatan masa, bagi-bagi sembako atau bahkan acara hiburan dengan mengundang grup-grup band ternama di negeri ini.
Belum hilang gaung HSP, beberapa minggu kemudian akan muncul momen bersejarah bernama Hari Pahlawan (HP) 10 November dimana pada saat ini banyak warga mengibarkan bendera satu tiang penuh. Upacara penghormatan pun dilakukan untuk memperingati momen tersebut. Kegiatan tahunan ini (seharusnya)menjadi satu refleksi bagi kita semua untuk mengenang jasa-jasa besar para pahlawan Indonesia yang dengan ikhlas mengorbankan segenap jiwa dan raga yang dimiliki sampai tetes darah penghabisan demi satu tujuan: Kemerdekaan.
Lebih dari itu, refleksi ini menjadi satu permenungan kita bersama, sejauh mana kita sebagai angkatan muda (baca: generasi muda), mampu menjadi bagian dalam proses pembangunan bangsa ini ke depan? Hal signifikan apa saja yang telah kita perbuat di dalam arus globalisasi yang penuh dengan persaingan ini? Karena seperti apa yang dikatakan oleh Soe Hok Gie bahwa kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia.
Namun teramat disayangkan, dari tahun ke tahun acara yang berbau peringatan bersejarah terasa semakin kurang dihayati oleh para angkatan muda dan bahkan menjadi kosong makna karena peringatan ini cenderung bersifat seremonial. Sebagaimana kerap nampak dihadapan kita, peringatan hari bersejarah rasanya cukup sekedar memasang bendera, mengikuti upacara, dihadiri para pejabat, didengarkan pidatonya, lantas selesai begitu saja tanpa ada satu nilai yang mengkontaminasi moral dan mental generasi yang hidup saat ini. Bahkan lebih naïfnya lagi, peringatan-peringatan seperti ini justru kerapkali dijadikan sebagai ajang promosi diri bagi segelintir elit guna kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Lahirnya Sinisme Kepemimpinan
Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, sinisme berarti pandangan atau pernyataan sikap yang tidak melihat suatu kebaikan apapun/meragukan sikap baik. Sedangkan kepemimpinan adalah proses memengaruhi/pemberian contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya. Jadi sinisme kepemimpian dikalangan generasi muda merupakan sikap ragu dari generasi muda terhadap para pemimpin-pemimpinnya sehingga disadari atau tidak akan melahirkan sikap pasif-apatis terhadap kemajuan bangsa.
"Memberikan teladan dengan melihat sosok-sosok teladan masa lalu itu bagus. Tapi ketika generasi muda sekarang melihat tak ada keteladanan dari pemimpin, maka mereka kehilangan kepercayaan. Hingga lahirlah sinisme," tutur Dr. Suprayitno, Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Magister, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, seperti dirilis dari harian analisa.com (26/10).
Terlepas benar tidaknya ucapan Dr. Suprayitno, Namun realitas di lapangan (memang) membuktikan bahwa maraknya prilaku pemimpin negeri yang korup serta gemar mempertontonkan laku saling curiga atau "tawuran", sadar atau tidak telah melahirkan kekurangpekaan dan kekurangpedulian generasi muda terhadap peran yang diembannya, yakni "agen of change". Alhasil yang terjadi kini adalah tidak sedikit generasi muda cenderung apatis terhadap organisasi, baik politik maupun sosial sehingga melahirkan budaya politik kaula-parochial di kalangan generasi muda itu sendiri. Tak heran jika di antara pemuda yang notabenemerupakan pilar bangsa mudah tersulut rasa saling curiga sehingga muncul tawuran, bentrok, seks bebas, narkoba atau tindakan "delinkuen" yang mengarah pada kriminalitas.
Lantas akan seperti apa negeri ini ke depan?






Posting Komentar